kita teguk bersama getir
buih yang menjelaskan semuanya
pemaknaan yang muncul
masih saja bersama entah…
kutawarkan padamu…
kekasih dan penggembara malam,
lekas kita seruput kehangatan
seperti kita tersenyum dalam tangis
seperti kita menangis dalam senyum,
relativitas di endapan cerita ini…
kehangatan teguk demi teguk
rongga tempat semua diasah,
unity dalam kelengkapan belum terhenti…
masihkah kita akan biarkan semua menguap
masihkah kita akan biarkan semua menggendap,
bukankah eksistensi sajak
masih butuh pemaknaan…
DIarsipkan di bawah: PUISI